Apakah Alam Semesta Punya Batas? Ini Jawaban Mengejutkan dari Ahli Kosmologi ITB

Pernah nggak, kamu memandang langit malam yang penuh bintang lalu tiba-tiba kepikiran, "Sebenarnya alam semesta ini seberapa besar sih? Ada ujungnya nggak?" Pertanyaan itu ternyata bukan cuma muncul di kepala orang random yang lagi insomnia. Pertanyaan yang sama sudah menghantui manusia sejak peradaban pertama berdiri, jauh sebelum ada teleskop, jauh sebelum Newton atau Einstein lahir.

Batas alam semesta adalah salah satu misteri terbesar yang sampai sekarang masih diperdebatkan para ilmuwan. Dalam episode Chronicles bertajuk "Batas Semesta dan Pertanyaan Terbesar Manusia", Prof. Premana Premadi, guru besar astrofisika dan kosmologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), mengupas tuntas bagaimana sains mencoba menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah ada sejak awal peradaban manusia. Mulai dari sejarah pergeseran paradigma Newton ke Einstein, cara ilmuwan mengukur usia semesta, sampai perdebatan seru soal multiverse dan apakah alam semesta ini "dirancang" dengan sangat presisi.

Artikel ini akan mengajak kamu menyusuri perjalanan itu, dari langit malam yang dipandangi manusia purba sampai persamaan matematika paling rumit yang pernah dibuat manusia.

Kosmologi: Lebih dari Sekadar Ilmu Bintang

Banyak orang mengira kosmologi cuma soal menghitung posisi bintang dan planet. Padahal menurut Prof. Premana, kosmologi adalah upaya memahami semesta sebagai satu sistem fisis yang utuh. Ilmu ini mempertanyakan hal-hal mendasar: semesta ini isinya apa saja, sudah berumur berapa lama, apakah dia berubah, dan kalau berubah, berubahnya seperti apa.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sebenarnya sudah diajukan sejak manusia mulai membangun peradaban. Hampir semua suku bangsa dan budaya kuno punya cerita kosmologi masing-masing, jauh sebelum kosmologi modern menerjemahkan pertanyaan itu ke dalam bahasa matematika dan fisika yang bisa diuji secara ilmiah.

Kenapa Manusia Purba Sudah Terobsesi dengan Langit?

Bayangkan langit malam tanpa polusi cahaya seperti yang dilihat orang zaman dulu. Taburan bintang yang begitu padat pasti terasa sangat menggetarkan, sekaligus memaksa manusia untuk bertanya-tanya tentang tempatnya di alam semesta yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Dari Newton ke Einstein: Pergeseran Besar dalam Memahami Semesta

Salah satu bagian paling menarik dari perbincangan ini adalah bagaimana pandangan manusia tentang alam semesta berubah drastis dari masa ke masa.

Alam Semesta yang "Abadi" ala Newton

Isaac Newton berpikir bahwa alam semesta bersifat statis dan abadi (eternal universe). Masalahnya, gravitasi menurut hukum Newton bersifat menarik semua massa satu sama lain. Kalau begitu, seharusnya semesta lama-lama runtuh ke satu titik, bukan? Untuk menjawab kejanggalan ini, Newton mengajukan gagasan bahwa alam semesta bersifat tak berhingga (infinite) secara ruang, sehingga gaya tarik antar massa saling menetralkan dan semesta tetap terlihat stabil.

"Blunder Terbesar" Einstein

Ketika Albert Einstein merumuskan persamaan medan relativitas umum, hasilnya menunjukkan bahwa alam semesta seharusnya tidak mungkin statis, kecuali kosong sama sekali. Karena masih terjebak dalam paradigma semesta abadi, Einstein lalu menambahkan sebuah faktor koreksi yang dia sebut sendiri sebagai kesalahan terbesarnya, yaitu konstanta kosmologi, agar persamaannya tetap menghasilkan semesta yang statis.

Belakangan, observasi Edwin Hubble dan koleganya pada era 1920-an menunjukkan fakta yang mengejutkan: galaksi-galaksi ternyata bergerak saling menjauh, dan makin jauh sebuah galaksi, makin cepat pula ia menjauh. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai Hukum Hubble, bukti kuat bahwa alam semesta sesungguhnya mengembang, bukan statis seperti yang diyakini Newton maupun Einstein di awal.

Bumi Bukan Pusat, Matahari Juga Bukan

Prof. Premana mengaitkan penemuan ini dengan prinsip kosmologi modern yang berakar dari revolusi Copernicus. Dulu manusia percaya Bumi adalah pusat semesta. Ternyata Bumi hanya mengelilingi Matahari. Belakangan diketahui Matahari pun bukan pusat, ia hanya salah satu dari miliaran bintang yang mengorbit pusat galaksi Bima Sakti. Bahkan Bima Sakti sendiri hanyalah satu dari triliunan galaksi lain di alam semesta yang teramati.

Prinsip inilah yang mendasari kosmologi modern: tidak ada titik istimewa di alam semesta. Ke arah mana pun kita memandang dalam skala yang sangat besar, sifat dan properti semesta relatif seragam. Artinya galaksi-galaksi yang tampak menjauh dari kita bukan karena kita spesial, melainkan karena seluruh ruang semesta memang sedang mengembang, seperti titik-titik di permukaan balon yang ditiup.

Berapa Usia Alam Semesta? Perjalanan Panjang Mencari Angka Pasti

Menghitung usia alam semesta ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar mengukur jarak biasa. Untuk jarak dekat, manusia bisa pakai meteran. Untuk jarak antarbenua, kita bisa hitung dari kecepatan pesawat. Tapi untuk mengetahui seberapa jauh sebuah galaksi, ilmuwan harus mengandalkan relasi fisis, misalnya membandingkan seberapa terang cahaya sebuah bintang seharusnya (berdasarkan energi intrinsiknya) dengan seberapa redup cahaya itu terlihat dari Bumi.

Laju Ekspansi yang Awalnya Sangat Meleset

Prof. Premana bercerita, ketika ia masih kuliah di era 1990-an, estimasi laju ekspansi alam semesta (dikenal sebagai konstanta Hubble) masih memiliki rentang yang sangat lebar, antara 40 hingga 110 kilometer per detik per megaparsec. Rentang ini membuat estimasi usia semesta bisa berkisar antara 10 hingga 20 miliar tahun, sebuah margin kesalahan yang sangat besar untuk ukuran sains.

Baru pada era 1990-an, berkat kemajuan teknologi seperti Hubble Space Telescope, para ilmuwan bisa mengamati galaksi-galaksi yang cukup jauh untuk merepresentasikan skala kosmologis sesungguhnya, tanpa terganggu interaksi gravitasi lokal. Dari situ, angka usia alam semesta perlahan-lahan mengerucut mendekati angka yang kita kenal sekarang, sekitar 13,8 miliar tahun.

Verifikasi Independen: Mencari Bintang Tertua

Untuk memastikan model teoretis itu benar, ilmuwan tidak cukup hanya mengandalkan persamaan matematika. Mereka juga mencari bintang-bintang paling tua di alam semesta, menghitung usianya lewat astrofisika bintang, lalu menjadikannya sebagai batas bawah usia semesta. Logikanya sederhana: alam semesta setidaknya harus lebih tua dari bintang tertua yang pernah ditemukan di dalamnya.

Metode verifikasi silang seperti inilah yang membuat kosmologi, menurut Prof. Premana, semakin sulit diragukan sebagai cabang sains yang matang, karena prediksi teoretisnya berulang kali terbukti lewat pengamatan langsung, termasuk deteksi langsung lubang hitam yang sebelumnya hanya diprediksi lewat teori.

Bisakah Kita Menemukan Batas Alam Semesta?

Ini bagian yang paling menggelitik rasa penasaran. Ketika persamaan dinamis kosmologi ditelusuri mundur, ukuran semesta menyusut hingga mendekati nol pada satu titik waktu tertentu. Titik itulah yang dikenal sebagai big bang. Karena rentang waktu dari titik nol itu sampai sekarang ternyata terhingga (finite), bukan tak terhingga, para kosmolog meyakini alam semesta memang punya permulaan, bukan sesuatu yang eksis selamanya tanpa awal.

Perdebatan Filosofis di Balik Big Bang

Fakta bahwa alam semesta punya titik awal membawa konsekuensi filosofis yang besar. Sejumlah ilmuwan, salah satunya Alan Guth bersama koleganya, berargumen bahwa alam semesta tidak bisa ditarik mundur hingga tak berhingga, harus ada permulaan. Di sisi lain, ada juga kosmolog seperti Sean Carroll yang mengusulkan gagasan alam semesta bersifat siklikal, mengembang, mengerut, lalu big bang lagi, berulang-ulang.

Perdebatan ini bukan sekadar urusan fisika, tetapi bersinggungan langsung dengan filsafat metafisika bahkan teologi. Jika alam semesta memang punya permulaan, muncul pertanyaan klasik: sesuatu yang punya awal (contingent being) biasanya membutuhkan sebab. Lalu, apa penyebab dari sebab itu sendiri?

Kenapa Alam Semesta Terasa "Terlalu Presisi"?

Salah satu bagian paling menarik dari diskusi ini adalah soal konstanta kosmologi, sebuah angka yang mengatur laju pengembangan alam semesta. Nilainya sangat kecil, dengan pangkat minus sekitar 120. Presisi angka ini bukan cuma kecil, tapi ekstrem: sedikit saja bergeser, alam semesta tidak akan pernah menjadi "rata" (flat) seperti yang kita amati sekarang, dan kehidupan seperti yang kita kenal mungkin tidak akan pernah terbentuk.

Fenomena semacam ini kerap disebut sebagai fine-tuning, kondisi awal alam semesta yang tampak "diatur" dengan sangat presisi agar bisa menghasilkan semesta yang stabil dan bisa dihuni. Ini yang membuat sebagian ilmuwan tergoda untuk mempertanyakan apakah ada "perancang" di balik semua ini, meski Prof. Premana menegaskan bahwa sains punya tanggung jawab untuk selalu mencari mekanisme yang bisa diuji, bukan langsung lompat ke kesimpulan metafisik.

Multiverse: Solusi atau Sekadar Menggeser Pertanyaan?

Salah satu tawaran untuk menjelaskan presisi ini adalah gagasan multiverse, yaitu kemungkinan adanya banyak alam semesta lain dengan kondisi awal yang berbeda-beda. Secara statistik, jika ada semesta yang jumlahnya sangat banyak, maka semesta dengan kondisi setepat milik kita menjadi lebih masuk akal secara probabilitas.

Gagasan ini sempat sangat populer sebagai konsekuensi dari string theory, teori yang mencoba menyatukan seluruh gaya fundamental alam, termasuk gravitasi yang selama ini paling sulit disatukan dengan mekanika kuantum. Namun, popularitas multiverse belakangan agak meredup karena keterbatasan bukti eksperimental yang bisa memverifikasinya secara langsung.

Prof. Premana menekankan, multiverse pada dasarnya menggeser pertanyaan, bukan menjawabnya. Jika ada alam semesta lain dengan hukum fisika yang sama sekali berbeda, itu berarti semua yang kita persepsikan di semesta ini sangat kontekstual, hanya berlaku dalam "gelembung" realitas kita sendiri.

Sains Punya Batas, dan Itu Bukan Kelemahan

Salah satu poin paling menyentuh dari perbincangan ini adalah soal kerendahan hati intelektual. Menurut Prof. Premana, sains sejak awal tidak pernah mengklaim bisa menjawab semua pertanyaan. Tapi sains punya tanggung jawab: setiap klaim harus punya dasar yang jelas dan bisa diuji.

Ini berbeda dengan fenomena di ruang publik saat ini, di mana opini yang terdengar sangat pasti dan percaya diri justru lebih "laku" ketimbang penjelasan yang hati-hati dan penuh nuansa. Padahal, menurut Prof. Premana, semakin dalam seseorang menekuni sains, semakin ia sadar akan batas-batas dari apa yang bisa ia klaim dengan yakin.

Kompetensi, dalam pandangan beliau, sebenarnya adalah buah dari karakter dan integritas yang dibangun bertahun-tahun, bukan sesuatu yang bisa dicapai lewat jalan pintas. Sebuah pesan yang relevan bukan cuma untuk calon ilmuwan, tapi untuk siapa pun yang ingin serius menekuni bidang apa pun.

Kesimpulan: Semesta yang Selalu Menyisakan Pertanyaan

Dari perbincangan Chronicles bersama Prof. Premana Premadi ini, kita belajar bahwa batas alam semesta bukan sekadar pertanyaan tentang jarak atau ukuran, tetapi tentang bagaimana manusia terus-menerus menyusun ulang pemahamannya sendiri tentang tempatnya di kosmos. Dari Bumi sebagai pusat, lalu Matahari, lalu galaksi, sampai akhirnya sadar bahwa mungkin tidak ada pusat sama sekali.

Sains sudah menempuh jalan panjang, dari perhitungan algebraic cosmology yang minim data, sampai era teleskop luar angkasa yang bisa memverifikasi usia semesta secara independen. Tapi sebesar apa pun kemajuan itu, pertanyaan tentang awal mula, batas, dan makna dari semua kepresisian alam semesta ini tetap terbuka.

Menurutmu sendiri, apakah alam semesta ini hasil kebetulan kosmis, atau ada sesuatu di baliknya yang belum bisa dijelaskan sains? Yuk, tulis pendapatmu di kolom komentar, siapa tahu perspektifmu bisa memperkaya diskusi pembaca lain.

FAQ Seputar Batas Alam Semesta dan Kosmologi

1. Apakah alam semesta benar-benar punya batas? Sampai saat ini, ilmuwan belum bisa memastikan apakah alam semesta punya batas ruang yang jelas. Yang lebih pasti dari data pengamatan adalah bahwa alam semesta punya batas waktu, yaitu titik awal berupa big bang sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

2. Bagaimana cara ilmuwan mengukur usia alam semesta? Ilmuwan menggabungkan dua pendekatan: model matematika berdasarkan laju ekspansi alam semesta (konstanta Hubble), dan verifikasi independen dengan mencari bintang-bintang tertua di alam semesta sebagai batas bawah usia semesta.

3. Apa itu teori multiverse dan apakah sudah terbukti? Multiverse adalah gagasan bahwa mungkin ada banyak alam semesta lain dengan kondisi awal yang berbeda-beda. Teori ini populer sebagai konsekuensi dari string theory, tetapi hingga kini belum ada bukti eksperimental langsung yang bisa memverifikasinya.

4. Kenapa alam semesta disebut "terlalu presisi" untuk kebetulan? Sejumlah konstanta fisika, seperti konstanta kosmologi, memiliki nilai yang sangat spesifik. Jika nilainya bergeser sedikit saja, alam semesta yang kita kenal, termasuk kemungkinan adanya kehidupan, tidak akan pernah terbentuk. Fenomena ini disebut fine-tuning.

5. Apakah sains bisa menjawab semua pertanyaan tentang alam semesta? Tidak. Sains dari awal tidak pernah mengklaim bisa menjawab semua pertanyaan, terutama pertanyaan metafisik seperti makna atau tujuan akhir alam semesta. Tapi sains punya tanggung jawab untuk memastikan setiap klaim yang dibuat punya dasar yang jelas dan bisa diuji ulang.


Sumber referensi: